Jumat, 04 Juni 2010

Mengonsumsi Burger Terlalu Sering Berisiko Asma

| Jumat, 04 Juni 2010 | 0 komentar

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS--Burger memang nikmat, apalagi dengan isi yang padat dan topping aneka saus yang kental. Namun, sebaiknya jangan terlalu sering. Selain berisiko menyumbat saluran arteri, sebuah penelitian membuktikan, burger dapat meningkatkan risiko asma dan sesak nafas terutama pada anak-anak.

Sebaliknya, dalam penelitian yang sama yang dipimpin Gabriele Nagel dari Ulm University di Jerman, diet Mediterania -- yang sarat buah, sayuran, dan ikan -- meski berlemak, dapat membantu menghindari masalah pernapasan terkait asma. Hasil penelitiannya dipublikasi di British Medical Journal yang terbit hari ini.

Asma merupakan penyakit kronis yang paling umum pada anak-anak. Penyakit ini eringkali dipicu oleh debu dan alergi. Gejala meliputi nafas berat dan biasanya berbunyi, nyeri dada, dan saluran pernapasan mengerut. Di seluruh dunia, penyakit ini menimpa sekitar 300 juta orang dan membunuh sekitar 250 ribu setiap tahun, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Untuk alasan yang masih kurang dipahami, asma telah mengalami peningkatan selama 25 tahun terakhir, khususnya di negara-negara kaya.

Untuk menilai sejauh mana diet dapat menjadi faktor bagi asma, peneliti dipimpin oleh Gabriele Nagel di Ulm University di Jerman meneliti data kesehatan pada 50. ribu anak usia delapan sampai 12 tahun, yang dikumpulkan antara 1995 dan 2005 dari 20 negara kaya dan miskin di seluruh dunia. Orang tua diminta untuk menggambarkan apa yang anak-anak mereka makan, dan apakah mereka pernah didiagnosa asma atau sesak nafas parah.

Hampir 30 ribu dari anak-anak diuji untuk melihat apakah makanan dan minuman punya peluang untuk mengembangkan alergi pada tubuhnya. Diet tampaknya tidak meningkatkan kepekaan terhadap alergen umum, tapi hal itu berkorelasi dengan prevalensi asma dan bengek.

Dan, ini dia, anak-anakyang makan tiga atau lebih hamburger seminggu bersama dengan minuman bersoda menghadapi risiko yang lebih tinggi secara signifikan. Tapi, kata Nagel, tak bisa menyebut burger sebagai penyebab tunggal dan langsung penyakit itu, karena faktor gaya hidup juga turut mendukung perkembangannya. "Hal ini akan menjelaskan mengapa burger di negara miskin tidak berhubungan dengan tingkat risiko yang sama," ujarnya.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

 

Chiklet

Followers

© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com